Irine Praptiningtyas
A Breathing Example of Hope
Drama Serenteng Rantai Besi

Kisah ini ditulis oleh Ustad Ahmad Zairofi. Selamat membacaa :D

Dari mesir ke Irak, lelaki itu dipaksa pergi. Dengan siksaan yang mungkin hanya dirinya yang kuat. Yusuf bin Yahya Al-Buwaithi namanya. Lelaki shalih, banyak berbuat kebajikan, rajin ibadah. Terkenal mengkhatamkan Al-Qur’an sering hanya dalam satu hari satu malam. Ia adalah murid dan juga penerus Imam Syafi’i. Yusuf harus mengendarai keledai dengan digantungi seberat 40 ritel besi. Dilehernya dikalungi besi, kakinya diikat. Antara kalung di leher dan besi di kaki itu masih diikat lagi dengan rantai besi. Sebabnya, ia tidak mau mengakui bahwa Al-Qur’an itu adalah makhluk. Sebuah doktrin baru yang aneh dan menyimpang di masanya, yang kemudian sangat dikenal dalam sejarah Islam sebagai fitnah mu’tazilah tentang Al-Qur’an adalah makhluk.

Orang-orang memintanya agar menyerah saja. Tetapi dengan tegas ia mengatakan,

Di belakangku, ada ratusan ribu orang yang tak mengerti arti semua ini.

Yusuf memahami betapa ia harus berjuang melawan rasa sakit, dan mungkin saja kematian yang terasa sangat dekat dalam kondisi seperti itu. Tapi ia telah memilih drama jiwa itu. Ia memutuskan, bahwa di tengah ratusan ribu orang yang ramai dengan ketidakmengertian, ia rela bertahan, dalam kesendirian yang melelahkan.

Aku lebih memilih mati dengan terikat besi-besi ini, agar suatu hari nanti, orang-orang itu mengerti bahwa telah mati dalam mempertahankan keyakinan ini seseorang yang terbelenggu dalam ikatan-ikatan besi.

Ia ingin menggambarkan betapa serius permasalahan tersebut. Dan, begitulah orang-orang besar punya drama dan konflik jiwanya yang berbeda dengan orang-orang biasa. Kadang dahulunya sebagian mereka adalah orang-orang yang bergelimang kesalahan. Lalu sesudah itu mereka bersikap, membuat keputusan, memilih jalan hidup yang lurus, kemudian seterusnya setia dengan cita-cita luhurnya. Ada juga yang memutuskan mengambil puncak keteguhan pada momen-momen yang sangat sulit sepanjang hidupnya, ketika pertaruhannya adalah hidup atau mati. Atau mereka yang memilih berkarya, memberi dan terus memberi untuk berjuta orang dengan ilmu, sikap, arahan, dan bahkan kematian itu sendiri. Tetapi tidak banyak orang yang menyadari betapa sepi dan sendirinya kehidupan mereka. Keramaian jiwanya digantungkan pada kerinduannya akan karunia Allah, ampunan, dan balasan yang lebih terhormat di akhirat kelak.

Rasulullah saw bahkan termasuk orang yang paling banyak mengalami fase kesendirian dalam hidupnya. Sejak kesendirian ditinggal sang ayah, lalu ibunya, lalu ditinggal mati kakeknya, ditinggal mati istrinya, hingga kesendirian ditinggalkan kaumnya. 

Kesendirian sebenarnya hanya suasana lain dari keunikan dan keistimewaan yang dimiliki seseorang. Maka, ketika sejarah banyak mencatat kesendirian orang-orang besar, sesungguhnya kesendirian itu bukan duka maupun kesedihan. Kesendirian orang-orang besar dalam sejarahnya, adalah justru merupakan tahap pemunculan keistimewaan dan keunikannya yang berbeda dan istimewa dibanding orang-orang pada zamannya.

Karenanya, Rasulullah saw memuji orang-orang yang tetap memegang teguh agamanya di saat ia harus melawan arus fitnah yang menyesatkan. Dalam hadist yang disampaikan oleh Anas bin Malik ra, Rasulullah saw bersabda,

Akan datang suatu zaman di mana orang yang berpegang pada agamanya seperti orang yang memegang bara api.”(HR. Tirmidzi).

Hadist ini, bisa sebagai berita tentang suatu zaman, juga sebagai petunjuk bagi kita, umatnya. Sebagai berita, hadist Rasulullah saw itu jelas menggambarkan sebuah kondisi yang sangat sulit bagi orang-orang yang ingin menegakkan kebenaran dan tetap berada di jalur keshalihan. Tetap memelihara kejujuran di tengah arus kebohongan dan kepalsuan. Tetap memelihara amal-amal taat di tengah gelombang balik amal-amal kemaksiatan. Kondisi itu akan ada, dan pasti terjadi.

Di sisi lain, hadist ini juga sebagai petunjuk bagi kita, untuk lebih bersiap mengalami kondisi sulit jika kita ingin tetap memegang teguh nilai-nilai kebenaran. Kuat menahan beratnya risiko mempertahankan sikap kebaikan dan keshalihan. Kuat menahan sakitnya berpegang pada kebenaran karena kita akan berada ditengah keadaan yang melawan arus. Tapi hadist ini juga memberi penghargaan tersirat dari Rasulullah saw terhadap orang-orang yang tetap bertahan di tengah gelombang yang menerpanya.

Seluruh hidup ini adalah drama. Kita menyusun sebagian besar kisahnya, menjalaninya, dan kemudian menutupnya dengan segala jenis ending. Menjadi pecundang? Pahlawan? Pemburu surga? Atau pemalas yang masa bodoh?

Pada begitu banyak orang-orang besar itu kita mungkin bisa mengambil semangat, untuk meneguhkan kembali pendirian kita, cita-cita dan kehendak kuat untuk menjadi orang yang beguna. Mungkin kebesaran kita tak bisa menyamai mereka. Apalagi seperti drama serenteng rantai besi yang menyiksa Yusuf Al Buwaithi. Tapi setiap kita bisa memulainya, setidaknya dengan memutuskan untuk memilih jalan terhormat sebagai sebenar-benar muslim.

Bagi orang-orang besar itu, kesendirian bahkan menjadi lebih bermakna dari kebersamaan. Kesendirian bagi mereka, justru membawa mereka pada kematangan jiwa hingga mereka berhasil mengurai rantai prestasi demi prestasi besarnya dalam hidup.

Itulah makna kesendirian yang terkandung dalam pesan Ibnu Taimiyah saat ia berada di balik jeruji penjara,

Sesungguhnya aku menunggu saat seperti ini, karena di dalamnya terdapat kebaikan besar.

(Tarbawi, Ust. Ahmad Zairofi)



“Air mata yang dibanggakan Allah itu air mata tobat. Bukan air mata rindu orang, apalagi air mata kelelahan.”

 —Uni Nurul



“Engkau yang rindu damai,

Rajin-rajinlah duduk di hadapan Tuhan, dalam waktu-waktu ibadahmu yang teratur, atau di malam-malam saat kau merasa bahwa menangis akan lebih indah daripada tidur.

Duduk dan diamlah engkau di hadapan Dzat Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Kaya, dan Yang Maha Pengasih itu.

Jika sulit bagimu untuk bicara, tak usah kau ucapkan apa pun. Diamlah, dan ijinkan air matamu menjadi juru lapor, juru keluh, dan juru bicara bagimu.

Dan jika hatimu memang sudah kau ikhlaskan seutuhnya sebagai penghubung antara diri baikmu dengan Tuhanmu, hatimu akan bergetar dengan pengertian-pengertian yang membuatmu damai dan seolah bisa melihat jelas ke masa depan.

Dan mudah-mudahan masih kau ingat pesanku dulu, bahwa …

Pengertian adalah ilmunya kehidupan.

Pengertianlah yang akan membuatmu bersyukur, yang kemudian membuatmu ikhlas, dan yang kemudian membuatmu damai.”

 —Mario Teguh – Loving you all as always (via marioteguh)

(via itsmererenny)



“Chew on your feelings like you would chew on rice. Because anyway, life is something that you need to digest.”

 —Suk’s Mom (Let’s Eat)
dengan sedikit perubahan



Percayalah, memutuskan buat jarang ke Bandung itu susahnya pake banget, pake sedih, dan pake mikir lama.

10 foto di atas adalah sebagian chat yang irin terima kemarin dan hari ini perihal “apa irin ada/bakal/masih di bandung weekend ini”. Maaf buat sebagian manusia yang irin bawelin kemarin yaa.

Huwaa, aku lagi mbandung banget, Pak Ridwan Kamil!
*ketika -kata Bapak Walikota kece ini- Bandung bukan hanya nama sebuah kota tapi juga nama sebuah perasaan*



“Berjanjilah kepada dirimu tiga hal: jika kamu mengerjakan sesuatu, ingatlah Allah, karena Dia melihatmu; jika kamu berbicara, ingatlah Allah, karena Dia mendengarmu; jika kamu diam, ingatlah Allah, karena Dia tahu isi hatimu.”

 —(via kuntawiaji)

Iman

(via frachman)

(via frachman)



“Tetapkan “values” kita, maka tidak akan ada lagi perdebatan monolog dengan diri sendiri, tidak akan ada lagi malam-malam susah tidur, dan tidak akan ada lagi pertanyaan-pertanyaan seperti ini : Apakah pilihan saya benar atau salah, apakah kita bisa melakukan yang lebih baik, atau apakah jangan-jangan ada banyak opsi lain yang terbuka.”



“Courage is what it takes to stand up and speak; courage is also what it takes to sit down and listen.”

 —QuoteOfficial



“Bahkan sebuah batu bata memiliki jalannya untuk lebih dari sekadar “ada”.”

 —Ia dapat menjadi bagian dari tembok pembatas yang “bermanfaat”, rumah yang “bermakna”, bahkan bangunan megah yang “menyejarah”.



“Cause women should sound like women. Not a baby doll who end everything in a question. Let’s make a statement.”

 —Carol (In A World)