PRECIOUS SECOND

Irine Praptiningtyas | A Reader | A Future Water Geek

Capture the moment. Collect experiences. Take every inspiration. Spread them to the world. Enjoy!
Recent Tweets @irine_tyas
Posts I Like
Cinta adalah kematian atas egoisme dan egosentrisme.
Ajari aku sedikit bicara, agar redam rasa angkuh dan sedikit lebih teduh.

Keringat meleleh tanpa ampun dari dahinya. Sebagian masuk menyusup ke dalam kelopak mata, menimbulkan perih. Sebagian lagi merembes turun. Membasahi dagu dan punggung Salman Al Farisi.

“Turunkan ibu, Nak”, pinta wanita renta yang ia bopong di punggungnya. “Ibu bisa berjalan sendiri”.

Salman menggeleng pada permintaan Ibunya yang entah sudah keberapa kalinya. Nafas Salman berat dan terengah tapi ia tak mau menyerah. Ini putaran tawaf mereka yang keenam. Sedikit lagi, tekadnya, sedikit lagi. Terbayang olehnya pintu-pintu surge membuka lebar untuknya.

Ratusan jemaah haji berjalan bersama mereka, melanntunkan doa sambil tersengal. Zikir ibunya mengayun, mengembalikan Salman pada suatu masa. Ketika ia berada dalam gendongan sang ibu. Ia bukan bayi itu lagi. Salman memejamkan mata, membayangkan dosa-dosanya. Entah sudah berapa kali ia sakiti ibunya lewat dosa-dosa ini. Apakah Tuhan berkenan membatalkan sebagian saja jika ia usap luka-luka hati ibunya?

Salman pernah bertanya kepada seorang alim ulama, “Jika kuajak ibuku berhaji, kugendong ia sampai ke Mekkah, dan kubawa ia bertawaf di punggungku, apakah akan terhapus seluruh dosaku? Apakah akan terbalas seluruh jasa ibuku?”

Ulama itu hanya tersenyum lalau berkata, “Salman, perihal dosamu, aku tak tahu. Jangankan dosamu. Dosaku saja masih berderet-deret”. Ulama itu menarik nafas panjang, menatap lantai batu tempat mereka bersila. “Tapi ini yang aku tahu persis, Salman”, lanjutnya.

“Bahkan jika kau gendong ibu di punggungmu, lalu kau bawa beliau seribu kali memutari Ka’bah, tak setetes pun darah yang beliau korbankan saat melahirkanmu akan bisa kau balas”.

Kini, saat sedang menyelesaikan putaran tawaf terkahirnya, tubuh Salman dipaksa runduk oleh punnggung, kaki, dan tangannya yang kepayahan. Berat ibunya telah banyak menyusut bersamaan dengan tanggalnya gigi tua itu. Tapi memutari Ka’bah dengan ibu punggungnya, sambil berimpitan dengan ratusan jemaah lain, membuat Salman perlahan terseok.

“Sedikit lagi, Salman”, hibur ibunya lembut. “Sedikit lagi dan kita akan sampai.”.

Saat mereka berhasil melewati tawaf hari itu, Salam mendudukkan ibunya dengan lembut di atas sebuah sajadah, jauh di tepian Ka’bah. Ia biarkan sang ibu menata kembali napasnya. Dalam senyap, mereka bersisian memandangi kerumunan manusia yang makin memadati tempat suci itu.

“Lelahkah, Ibu?”

Ibunya tersenyum. Kulit yang mengendur di sisi-sisi bibirnya terntang halus. “Harusnya Ibu yang bertanya begitu”.

Salam lalu berlutuu di depan wanita mulianya. Dengan kedua tangan, ia genggam tangan sang ibu. Menundukkan kepala lalu melekatkan dahinya pada tangan yang dipenuhi jejak kerja keras itu.

“Ibu, aku tahu. Tak bisa kubalas setiap nafas yang kau tarik karena tingkahku, setiap peluh yang menetes saat merawatku, dan setiap tetes darah yang tertumpah saat kau melahirkanku”. Bahu Salman terguncang keras, “Tapi Ibu, apakah engkau ridha padaku?”

Perempuan dengan wacah bercahaya itu tersenyum. Matanya berpendar oleh rasa harudan bangga. Betapa telah ia rentang kuat-kuat setiap jengkal tubuhnya saat membesarkan Salman seorang diri. Tak ada yang tak ia korbankan untuk anaknya ini.

Ia ulurkan tangan kecilnya yang rapuh, membelai Salman yang separuh bersujud di kakinya. “Nak,” pelan ia berucap,

“Ibu ridha padamu.”

Seketika itu juga langit Mekkah melesatkan sinar putih yang amat sangat terang. Di kaki ibunya Salman menangis tergugu.

irinepraptiningtyas:

Ini salah satu tanda kebesaran Allah di pelantikan kader muda GAMAIS ITB 2012. Bunga ini tumbuh di lahan proyek pembangunan yang belum selesai di ITB Jatinangor. Area sekitarnya udah gersang tanpa rumput, tapi emang ya, kalo Allah udah berkehendak, apapun bisa terjadi :)

Selalu menyenangkan menemukan hal seperti ini di tempat-tempat yang “aneh”. :”)

Subhanallah!

Dan berapa banyak tanda-tanda (kebesaran Allah) di langit dan di bumi yang mereka lalui, namun mereka berpaling darinya.

(QS. Yusuf : 105)

irinepraptiningtyas:

Menara Masjid Salman ITB.
Masjid Salman ITB, salah satu tempat favorit irin di dunia :’)

irinepraptiningtyas:

Menara Masjid Salman ITB.

Masjid Salman ITB, salah satu tempat favorit irin di dunia :’)

irinepraptiningtyas:

Sesederhana doa.
Itulah bentuk penjagaan terbaik yang kupilih untukmu.

Sesederhana doa.
Itulah bentuk penghormatan tertinggi yang kupersembahkan untukmu.

Sesederhana doa.
Itulah bentuk penghargaan terbesar yang kusematkan untukmu.

Sesederhana doa.
Benar-benar hanya sesederhana doa.

Bisakah kali ini, sejenak, hanya sejenak saja, kita berhenti merumitkan segalanya? Karena terkadang, hanya terkadang, dengan pola pikirku terlalu sok tahu ini, akhir-akhir ini dunia telah menjadi begitu berisik dengan jutaan kerumitan artifisialnya yang entah apa.

Hubungan antarmanusia, entah itu sesama laki-laki, sesama perempuan, ataupun antara laki-laki dan perempuan, baik sebagai orang tua-anak, kakak-adik, suami-istri, atasan-bawahan, dan sebagainya, memang terkesan rumit. Memang benar-benar terkesan rumit. Tapi percayalah, ada banyak cara untuk menyederhanakannya. Terutama ketika segala rasa itu dikembalikan kepada Sang Pengendali Rasa. Percayalah, urusan ini sejatinya benar-benar sederhana saja.

- Untuk manusia-manusia yang, maaf, terkadang  terlalu “berisik” dengan segala kerumitannya soal hubungan antarmanusia.

Setiap orang bisa marah. Itu perkara mudah. Namun untuk marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan cara dan tujuan yang benar lagi tepat, itu tidaklah mudah.
Aristoteles (via irinepraptiningtyas)

irinepraptiningtyas:

Katanya, saat iman berbicara, ia menembus batasan ruang dan waktu, “Sederhanakan saja. Ia akan mengurus segala”.

Katanya, saat iman berbicara, ia melepaskan diri dari belenggu  logika dan rasa, “Hey, bahkan ada yang lebih manusiawi dari itu semua”.

Dan katanya, saat iman berbicara. ia melepaskan diri dari standar kepemilikan dan harta, “Penting, tapi mereka hanya sarana. Bukan yang utama”.

Lalu malam ini aku pun bertanya, mencoba berkaca, apa yang mampu dikatakan iman dalam dada.

Terkadang, pada suatu titik, saya merasa bahwa ketakutan yang saya rasakan akan masa depan adalah bagian dari keangkuhan. Merasa takut karena seolah semua harus ditanggung seorang diri. Dengan genggaman tangan sendiri. Dengan tumpuan kaki sendiri. Jiwa kerdil ini seolah tak percaya, bahwa akan ada yang melindunginya, bahwa akan ada yang menemaninya, bahwa akan ada yang menguatkannya, dan bahwa, hellooo~, ada Ia yang mengatur segalanya. 

Ternyata memang benar, saya terlalu mengacuhkan kualitas iman dalam dada. Jarang merawatnya dan terlalu penakut untuk mempersilakannya mengambil kendali hidup saya. Mungkin ini saatnya, menyadari kehadirannya dan mempersilakan ia untuk berbicara.

kurniawangunadi:

Tulisan ini adalah tulisan 18/30 selamat bulan ramadhan. Tulisan ini telat publish karena kesibukan penulis, semoga tetap bermanfaat.

[REPOST] Akhir-akhir ini aku berpikir tentang mati ketika menyaksikan ada teman seusiaku mati karena kecelakaan. Bertanya-tanya bagaimana jika aku mati muda….